Mentari pagi di Lembah Candrakirana tampak redup, seolah-olah enggan menembus sisa-sisa kegelapan yang ditinggalkan oleh pasukan Batara Kala. Wisanggeni dan Ontoseno masih berada di sana, mengatur napas setelah pertempuran besar yang hampir merenggut nyawa mereka. Tanah di sekitar mereka penuh dengan bekas-bekas kehancuran—lubang besar yang tercipta dari ajian-ajian dahsyat mereka, pepohonan yang hangus, dan sisa-sisa bayangan yang lenyap menjadi abu.
“Berapa banyak lagi ini akan terjadi?” tanya Ontoseno sambil duduk di atas batu besar, mengikat perban di lengannya yang terluka.
Wisanggeni, yang berdiri tak jauh darinya, menatap ke arah cakrawala dengan tatapan kosong. “Sampai kita menghentikan Batara Kala, ini tidak akan berakhir.”
Ontoseno mengangkat alis. “Dan bagaimana kita melakukannya? Dia bahkan tidak muncul di pertempuran terakhir, hanya mengirimkan raksasa dan pasukan bayangannya.”
Wisanggeni menggeleng pelan. “Dia sedang menguji kita. Mungkin dia ingin melihat sejauh mana kita bisa bertahan.”
“Bagus,” Ontoseno berkata dengan nada sarkastis. “Aku berharap ujian berikutnya melibatkan lebih sedikit raksasa yang mencoba menghancurkan tulang-tulangku.”
Namun, sebelum Wisanggeni sempat menjawab, suara gemuruh dari langit membuat mereka berdua mendongak. Awan hitam mulai berkumpul, membentuk pusaran besar yang seakan menelan cahaya matahari. Langit yang tadinya abu-abu kini berubah menjadi merah darah, menciptakan suasana yang mengerikan.
“Ini tidak terlihat seperti pertanda baik,” kata Ontoseno, berdiri dengan cepat, Pancanaka-nya sudah bersiap di tangannya.
Dari pusaran itu, muncul sebuah bayangan besar. Sesosok pria dengan jubah hitam panjang, berdiri di atas kereta perang yang ditarik oleh dua ekor kuda bersayap hitam. Itu adalah Batara Kala.
“Wisanggeni! Ontoseno!” suaranya menggema, lebih keras dari guntur. “Kalian mungkin berhasil di lembah ini, tapi kalian tidak akan selamat dari ujian berikutnya!”
Sebelum mereka sempat bereaksi, Batara Kala mengayunkan tongkatnya ke arah mereka. Dari ujung tongkat itu muncul serangan petir hitam yang menyambar dengan kecepatan luar biasa. Wisanggeni melompat ke depan, menggunakan ajian Tameng Dahana, menciptakan perisai api besar yang menahan serangan tersebut. Namun, kekuatan petir itu terlalu kuat, membuat Wisanggeni terdorong ke belakang hingga terjatuh.
“Dia jauh lebih kuat dari yang kita kira!” Wisanggeni berteriak, mencoba berdiri kembali.
Ontoseno melompat maju, menggunakan ajian Guntur Pancanaka, sebuah pukulan dahsyat yang menciptakan gelombang tanah yang menjalar ke arah Batara Kala. Namun, sebelum gelombang itu mencapai keretanya, Batara Kala memutar tongkatnya, menghentikan serangan itu dengan mudah.
“Kekuatan kalian menghibur,” kata Batara Kala dengan nada mengejek. “Tapi itu tidak cukup untuk melawanku.”
Ia mengangkat tongkatnya lagi, kali ini menciptakan pusaran angin besar yang menyedot pepohonan dan batu-batu di sekitar mereka. Wisanggeni dan Ontoseno mencoba bertahan, tetapi kekuatan angin itu terlalu besar.
“Jika ini terus berlanjut, kita tidak akan bertahan!” kata Ontoseno sambil mencengkeram tanah dengan Pancanaka-nya.
Wisanggeni memandang ke arah Batara Kala dengan tekad. “Kita harus menyerangnya langsung. Dia kuat, tapi dia tidak tak terkalahkan.”
“Kalau begitu, aku akan membuka jalan. Kau serang dia!” Ontoseno berkata, suaranya tegas.
Ontoseno memusatkan energinya ke dalam Pancanaka-nya, mengaktifkan ajian Pancanaka Jiwandana, sebuah serangan yang membuat tanah di sekitarnya bergetar hebat. Dengan satu pukulan, ia menciptakan retakan besar yang menjalar ke arah kereta perang Batara Kala. Retakan itu meledak, menghancurkan roda salah satu kereta, membuat Batara Kala kehilangan keseimbangannya.
Saat itulah Wisanggeni melancarkan serangannya. Ia melompat ke udara, memanggil ajian terkuatnya: Brahmastra Dahana, sebuah serangan api yang berbentuk tombak raksasa, menyala putih keemasan. Dengan seluruh kekuatannya, ia melemparkan tombak itu ke arah Batara Kala.
Namun, Batara Kala tidak tinggal diam. Ia memanggil perisai gelap yang terbuat dari bayangan, menahan serangan itu. Benturan antara dua kekuatan besar itu menciptakan ledakan dahsyat yang mengguncang lembah.
Wisanggeni terjatuh, napasnya tersengal-sengal. Serangannya telah menguras hampir seluruh energinya, tetapi Batara Kala masih berdiri dengan senyum licik di wajahnya.
“Ini yang terbaik yang bisa kau lakukan, Anak Api?” tanya Batara Kala.
Ontoseno, yang melihat Wisanggeni mulai kelelahan, tidak tinggal diam. Ia kembali menggunakan Pancanaka-nya untuk menyerang Batara Kala, menciptakan badai tanah yang menutup penglihatan lawan mereka.
“Aku tidak akan membiarkanmu kalah di sini, Wisanggeni!” teriak Ontoseno.
Melihat usaha Ontoseno, Wisanggeni bangkit dengan susah payah. Ia memegang Cincin Amerta di tangannya, memusatkan sisa-sisa energinya ke dalam ajian terakhir. Api di tubuhnya mulai menyala terang kembali, kali ini bercampur dengan cahaya dari Cincin Amerta.
“Ontoseno! Aku butuh waktu!” teriak Wisanggeni.
Ontoseno mengangguk. Ia menggunakan ajian Pancanaka Bhumi Anglayang, menciptakan tanah yang bergerak seperti ombak, membuat Batara Kala kehilangan pijakan. Itu memberikan Wisanggeni cukup waktu untuk mempersiapkan serangan terakhirnya.
“Ini untuk dunia yang kau coba hancurkan, Batara Kala!” Wisanggeni berteriak, melancarkan serangan pamungkasnya: Agni Brahmanda, sebuah bola api besar yang menyala terang seperti matahari. Ia melemparkannya dengan seluruh kekuatannya, langsung ke arah Batara Kala.
Batara Kala mencoba melawan dengan tongkatnya, tetapi kekuatan serangan itu terlalu besar. Bola api itu menghantamnya, menciptakan ledakan yang menyapu seluruh lembah.
Ketika asap mulai mereda, Batara Kala sudah tidak terlihat lagi. Wisanggeni dan Ontoseno berdiri di tengah lembah yang kini sunyi, tubuh mereka penuh luka, tetapi hati mereka penuh kemenangan.
“Aku pikir kita tidak akan selamat kali ini,” kata Ontoseno sambil tertawa kecil, meski napasnya masih berat.
Wisanggeni tersenyum lelah. “Tapi kita melakukannya. Kita menghentikannya... untuk sekarang.”
Namun, jauh di dalam hati mereka, mereka tahu bahwa ini belum berakhir. Batara Kala mungkin telah dikalahkan, tetapi ancamannya masih mengintai, lebih besar dari sebelumnya. Dan mereka harus bersiap untuk pertempuran yang lebih besar, di mana takdir dunia akan benar-benar ditentukan.
Komentar
Posting Komentar