Langit Kahyangan kini cerah, menyelimuti alam dengan kedamaian yang telah lama hilang. Wisanggeni duduk di atas batu besar di tepian Alun-Alun Suralaya, tubuhnya masih lemah setelah pertarungan besar melawan Batara Kala. Kemenangan itu telah mengembalikan keseimbangan dunia, tetapi di dalam hatinya, ada kekosongan yang tidak bisa ia abaikan.
Ia menatap cakrawala, memikirkan Ontoseno. Perjalanan panjang mereka bersama terasa seperti mimpi yang tragis. Ontoseno bukan hanya sepupunya, tetapi juga jangkar yang membuatnya tetap kuat di saat-saat tergelap. Kehilangan Ontoseno adalah harga yang terlalu mahal, bahkan untuk kemenangan sebesar ini.
Namun, suasana sunyi itu tiba-tiba terganggu oleh suara langkah kaki. Wisanggeni menoleh, dan matanya membelalak.
“Ontoseno?” Wisanggeni berbisik, hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Di depannya berdiri Ontoseno, masih dengan tubuh kekar dan senyum lebarnya yang khas. Ada perban yang melilit beberapa bagian tubuhnya, tetapi ia tampak hidup dan sehat.
“Kau tidak berpikir aku akan benar-benar meninggalkanmu, kan?” kata Ontoseno dengan nada santai, meskipun matanya menyiratkan emosi yang mendalam.
Wisanggeni berdiri dengan tergesa-gesa, matanya penuh kebahagiaan dan keheranan. “Tapi... bagaimana ini mungkin? Aku melihatmu...”
Ontoseno mengangkat tangannya, menghentikan Wisanggeni sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. “Semuanya berkat Batara Narada. Dia menyelamatkanku di saat terakhir, sebelum aku benar-benar pergi. Sepertinya dunia ini belum selesai denganku.”
Dari balik Ontoseno, muncul sosok Batara Narada, mengenakan jubah emasnya yang bercahaya. “Ontoseno adalah bagian penting dari dunia ini, Wisanggeni. Sama sepertimu. Aku tidak bisa membiarkan api perjuangan kalian padam begitu saja.”
Wisanggeni merasa dadanya sesak, tetapi kali ini bukan karena kesedihan. Ia merasa utuh kembali. “Terima kasih, Batara Narada. Aku... aku tidak tahu bagaimana membalas semua ini.”
Batara Narada tersenyum bijak. “Tidak perlu berterima kasih, Wisanggeni. Kalian berdua memiliki tugas besar ke depan. Dunia ini masih membutuhkan penjaga. Dan aku pikir sudah waktunya kau bertemu dengan keluarga yang sebenarnya.”
Beberapa jam kemudian, Wisanggeni dan Ontoseno berjalan di bawah gerbang megah menuju istana Kahyangan. Di sana, para Pandawa telah berkumpul, dipimpin oleh Yudhistira. Arjuna, ayah Wisanggeni, berdiri di samping saudara-saudaranya, mengenakan pakaian kebesaran seorang kesatria. Tatapannya penuh kebingungan ketika ia melihat dua pemuda mendekat.
“Siapa mereka?” tanya Bima dengan nada berat, meskipun matanya terpaku pada Ontoseno yang ia kenali.
Ontoseno maju dengan senyum lebar. “Aku tahu aku tidak terlalu sering pulang, Ayah, tapi aku harap kau belum lupa pada anakmu sendiri.”
Bima tertawa besar, langkahnya berat tetapi penuh kegembiraan saat ia mendekati Ontoseno. “Ontoseno! Anak nakal, kau masih hidup! Aku mendengar tentang pertempuran besar itu. Kupikir kau sudah menjadi legenda di dunia lain.”
Ontoseno hanya tertawa, membiarkan ayahnya memeluknya dengan erat. Tetapi perhatian semua orang segera beralih ke Wisanggeni, yang berdiri di samping dengan kepala tertunduk, seolah-olah tidak yakin bagaimana memulai.
Arjuna melangkah maju, matanya memeriksa pemuda itu dengan saksama. “Dan siapa kau, anak muda?”
Ontoseno melirik Wisanggeni dengan senyum tipis. “Kenalkan, Ayah Arjuna. Dia adalah Wisanggeni. Dan dia bukan sekadar pangeran api. Dia adalah putramu.”
Kata-kata itu seperti petir yang menyambar seluruh ruangan. Para Pandawa saling memandang dengan mata penuh keterkejutan. Arjuna melangkah lebih dekat, matanya menyipit, mencoba melihat kebenaran dalam wajah Wisanggeni.
“Benarkah ini?” Arjuna bertanya, suaranya serak.
Wisanggeni akhirnya mendongak, matanya bertemu dengan mata ayahnya. “Ya. Aku adalah putra dari pernikahanmu dengan Dewi Dresanala. Aku adalah anak yang kau tinggalkan di Gunung Candradimuka. Tapi aku tidak datang untuk menyalahkanmu. Aku datang... untuk mengenalmu.”
Suasana menjadi hening. Arjuna tampak diliputi emosi yang sulit dijelaskan. Ia akhirnya merentangkan tangannya dan mendekati Wisanggeni. “Anakku... maafkan aku. Aku tidak pernah berhenti memikirkanmu, tetapi aku tidak punya keberanian untuk mencarimu. Aku takut pada apa yang akan aku temukan.”
Wisanggeni menerima pelukan itu, merasa untuk pertama kalinya bahwa ia adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Namun, kejutan belum selesai. Dari belakang istana, muncul seorang wanita cantik dengan wajah yang lembut tetapi penuh wibawa. Itu adalah Dewi Dresanala, ibunya. Mata Wisanggeni membesar saat ia melihatnya.
“Wisanggeni...” suara Dewi Dresanala bergetar, penuh dengan kebahagiaan yang tak terlukiskan.
“Ibu?” Wisanggeni berbisik, suaranya hampir tidak terdengar.
Dewi Dresanala berlari ke arahnya, memeluknya dengan erat. “Aku selalu tahu bahwa kau akan kembali padaku suatu hari. Kau adalah kebanggaanku, Wisanggeni. Aku menyesal karena harus meninggalkanmu, tetapi aku tidak punya pilihan.”
Wisanggeni tidak bisa menahan air matanya. Semua kesepian dan kebingungan yang ia rasakan sepanjang hidupnya kini sirna. Ia merasa lengkap, dikelilingi oleh keluarga yang akhirnya menerima keberadaannya.
Malam itu, pesta besar diadakan di Kahyangan untuk merayakan kemenangan Wisanggeni atas Batara Kala dan kembalinya Ontoseno. Para Pandawa, Dewi Dresanala, dan para dewa berkumpul untuk memberikan penghormatan kepada dua pemuda yang telah menyelamatkan dunia.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Wisanggeni dan Ontoseno tahu bahwa tugas mereka belum selesai. Dunia selalu membutuhkan penjaga, dan mereka telah menerima takdir itu dengan penuh keberanian.
“Jadi, apa rencanamu setelah ini?” tanya Ontoseno sambil mengangkat cangkirnya.
Wisanggeni menatap jauh ke langit malam yang penuh bintang. “Aku akan terus menjaga keseimbangan dunia ini. Tapi kali ini, aku tidak akan melakukannya sendirian.”
Ontoseno tertawa. “Kau benar. Karena aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukan semuanya sendiri.”
Dan dengan itu, kisah Wisanggeni, sang Pangeran Api, mencapai akhirnya—bukan sebagai anak yang terbuang, tetapi sebagai cahaya yang menerangi dua dunia.
Komentar
Posting Komentar