Langit pagi di puncak Gunung Merapi tampak kelabu, diselimuti kabut yang bercampur dengan asap belerang. Wisanggeni dan Ontoseno telah menempuh perjalanan berat untuk mencapai tempat ini. Tubuh mereka penuh luka, tetapi semangat mereka tetap membara. Gunung Merapi adalah tempat di mana Wisanggeni diharapkan bisa menemukan jawaban lebih dalam tentang asal-usulnya dan kekuatan besar yang bersemayam dalam dirinya. Namun, perjalanan mereka bukan tanpa resiko.
Di hadapan mereka, berdiri sebuah batu besar dengan ukiran kuno. Batu itu tampak seperti gerbang menuju tempat yang lebih dalam di gunung, tetapi tidak ada celah untuk masuk. Hanya ukiran naga besar yang melilit di atas permukaannya, matanya terbuat dari permata yang bersinar redup.
“Apa kita sudah sampai?” tanya Ontoseno sambil menggosok tangannya, mencoba menghalau hawa dingin yang menembus tulang.
Wisanggeni mengamati ukiran itu dengan saksama. “Aku rasa ini gerbangnya. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara membukanya.”
Ontoseno mengangkat kuku Pancanaka-nya. “Kalau begitu, biar aku yang mencoba.”
“Jangan gegabah!” Wisanggeni memegang tangan Ontoseno sebelum ia menghantam batu itu. “Ini bukan pintu biasa. Ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya.”
Ontoseno mendengus. “Jadi apa rencanamu, Anak Api? Berdiri di sini dan menatapnya sampai batu ini kasihan dan membuka diri?”
Wisanggeni tidak menjawab. Sebaliknya, ia menutup matanya dan menyentuh batu itu dengan hati-hati. Saat tangannya menyentuh permukaan dinginnya, suara bergaung memenuhi udara, seperti bisikan angin yang membawa rahasia kuno.
“Darah naga dan api adalah kunci...”
Ontoseno melangkah mendekat, matanya menyipit. “Apa kau dengar itu?”
Wisanggeni membuka matanya, ekspresinya berubah serius. “Kita butuh darah naga. Itu artinya... kau.”
Ontoseno terkejut, tetapi ia segera tertawa. “Ah, jadi sekarang aku tidak hanya jangkar kekuatanmu, tapi juga donor darah untuk batu-batu tua. Baiklah, bagaimana caranya?”
Wisanggeni mengangkat tangannya, api kecil menyala di ujung jarinya. “Aku butuh sedikit darahmu. Luka kecil saja.”
Ontoseno mengangguk tanpa ragu. “Lakukan.”
Dengan hati-hati, Wisanggeni menggunakan api untuk membuat sayatan kecil di tangan Ontoseno. Darah mengalir dan menetes ke permukaan batu. Begitu darah itu menyentuh ukiran naga, batu itu bergetar hebat. Permata di mata naga mulai bersinar terang, dan perlahan, ukiran itu membuka, memperlihatkan jalan setapak menuju kedalaman gunung.
“Lihat? Aku berguna,” kata Ontoseno sambil menutup lukanya dengan kain.
Wisanggeni tersenyum tipis, tetapi rasa lega itu hanya sementara. Di depan mereka, jalan menuju kedalaman gunung tampak seperti lorong tanpa akhir, dengan dinding-dinding yang memancarkan cahaya merah redup.
Ketika mereka masuk, suhu udara meningkat drastis. Asap belerang memenuhi ruangan, membuat napas terasa berat. Namun, itu bukan satu-satunya tantangan. Tidak lama setelah mereka melangkah lebih dalam, suara gemuruh mulai terdengar, diikuti oleh kilatan cahaya yang memantul di dinding.
“Ada sesuatu di sini,” kata Ontoseno, matanya bergerak gelisah, memeriksa setiap sudut.
Suara gemuruh itu semakin dekat, dan dari kegelapan muncul sosok yang membuat mereka terkejut. Seekor naga besar, tubuhnya bersinar merah seperti lava, matanya menyala seperti bara api. Naga itu membuka mulutnya, memperlihatkan gigi-gigi tajam yang memancarkan kilau emas.
“Siapa yang berani mengganggu tempat ini?” suara naga itu menggema, membuat dinding-dinding bergetar.
Wisanggeni melangkah maju, mencoba berbicara dengan tenang meski jantungnya berdetak kencang. “Kami datang untuk mencari jawaban. Aku adalah Wisanggeni, dan aku percaya ini adalah tempat di mana aku bisa menemukan takdirku.”
Naga itu menyipitkan matanya, menatap Wisanggeni dengan tajam. “Wisanggeni, Anak Api. Aku tahu siapa kau. Tapi untuk menemukan takdirmu, kau harus melewati ujian terakhir. Dan ujian itu... adalah aku.”
Tanpa peringatan, naga itu meluncur ke arah mereka, menyerang dengan napas api yang lebih panas dari api Wisanggeni sendiri. Ontoseno melompat ke samping, menggunakan Pancanaka-nya untuk menghantam tanah, menciptakan celah besar yang menahan pergerakan naga itu sementara.
“Kita tidak punya pilihan selain melawannya!” teriak Ontoseno.
Wisanggeni mengangguk, api di tubuhnya menyala terang. Ia meluncurkan serangan pertama, bola api besar yang mengenai tubuh naga itu. Tetapi serangan itu hanya membuat naga itu semakin marah.
“Api melawan api? Kau harus tahu lebih baik dari itu, Anak Api!” teriak naga itu sambil menghempaskan ekornya ke arah Wisanggeni.
Wisanggeni menghindar dengan cepat, tetapi ia tahu serangan langsung tidak akan cukup. Ia harus menemukan cara untuk melemahkan naga itu. Di tengah kekacauan, ia melihat retakan kecil di dada naga itu, tempat cahaya merah bersinar terang. Itu pasti sumber kekuatannya.
“Ontoseno! Retakan di dadanya, itu kelemahannya!” teriak Wisanggeni.
Ontoseno tidak membuang waktu. Ia melompat tinggi ke udara, kuku Pancanaka-nya terangkat, siap menusuk retakan itu. Tetapi naga itu lebih cepat. Ia memutar tubuhnya, menghantam Ontoseno dengan ekornya hingga tubuh kesatria naga itu terlempar ke dinding.
“Ontoseno!” Wisanggeni berteriak, tetapi ia tidak punya waktu untuk memeriksa keadaan sepupunya. Naga itu sudah berbalik menyerangnya, mulutnya terbuka lebar dengan napas api yang siap melahapnya.
Wisanggeni menutup matanya, mencoba merasakan kekuatan Cincin Amerta yang ada di jarinya. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan api di tubuhnya menyatu dengan kekuatan cincin itu. Ketika ia membuka matanya lagi, api putih keemasan menyala terang di sekujur tubuhnya.
“Aku bukan hanya api, aku adalah cahaya!” teriak Wisanggeni.
Dengan kekuatan barunya, Wisanggeni melompat ke depan, langsung menuju retakan di dada naga itu. Ia menghantam retakan itu dengan tinjunya, melepaskan seluruh energi dari api putihnya. Naga itu mengeluarkan raungan terakhir sebelum tubuhnya hancur menjadi pecahan-pecahan lava yang berkilauan.
Setelah pertempuran itu, Wisanggeni jatuh berlutut, kelelahan. Ontoseno bangkit perlahan dari reruntuhan, wajahnya penuh debu tetapi masih dengan senyuman lebar.
“Kau benar-benar tahu cara membuat pertunjukan,” katanya sambil membantu Wisanggeni berdiri.
Di tengah ruangan yang sekarang sunyi, sebuah cahaya muncul, membentuk sosok pria tua dengan jubah putih. Itu adalah Batara Narada.
“Kalian telah melewati ujian yang tidak mudah,” katanya dengan suara tenang. “Tapi perjalanan kalian masih jauh. Rahasia tentang kekuatanmu, Wisanggeni, adalah sesuatu yang lebih besar dari yang kau bayangkan. Bersiaplah, karena perang antara manusia dan dewa semakin dekat.”
Wisanggeni dan Ontoseno saling memandang. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka baru saja dimulai. Tetapi dengan setiap langkah, mereka menjadi lebih kuat, lebih dekat dengan takdir yang akan menentukan nasib dunia.
Komentar
Posting Komentar