Cincin Amerta bersinar lembut di tangan Wisanggeni, seakan bernafas bersama api yang mengalir di tubuhnya. Namun, benda suci itu bukan sekadar pusaka—ia seperti hidup, berbisik dalam bahasa yang hanya bisa didengar oleh Wisanggeni. Setiap kali ia memegangnya, bayangan tentang masa depan yang penuh kehancuran muncul di pikirannya.
“Kau terus menatap cincin itu seolah-olah itu musuhmu,” kata Ontoseno sambil duduk di bawah pohon besar, mengasah kukunya yang tajam. “Kau tidak berpikir benda itu akan meledak, kan?”
Wisanggeni mendesah. “Benda ini tidak meledak. Tapi aku merasa... ia sedang menilai kita. Seperti menguji apakah kita layak memilikinya atau tidak.”
Ontoseno tertawa kecil. “Apa pun itu, pastikan kau tidak membiarkan cincin itu mengendalikanmu. Kita sudah punya cukup masalah tanpa perlu tambahan drama dari benda mati.”
Wisanggeni tersenyum samar, tetapi ia tahu Ontoseno tidak sepenuhnya salah. Cincin Amerta adalah sesuatu yang luar biasa, tetapi kekuatan sebesar itu selalu memiliki konsekuensi. Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat berikutnya yang disarankan oleh Batara Guru: Gunung Merapi, tempat di mana Wisanggeni diharapkan dapat menyempurnakan kendali atas kekuatannya.
Namun, perjalanan ke Gunung Merapi jauh lebih berbahaya daripada yang mereka duga. Di tengah jalan, mereka menemukan hutan gelap yang tidak ada di peta mana pun. Pohon-pohon di sana melengkung seperti makhluk hidup, dan udara dipenuhi aroma busuk yang menyengat.
“Ini pasti perangkap,” kata Ontoseno sambil mencengkeram Pancanaka-nya. “Tempat ini tidak alami.”
“Aku juga merasakannya,” kata Wisanggeni, matanya menyipit memeriksa sekeliling. “Hati-hati. Apa pun yang ada di sini, mereka tahu kita membawa Cincin Amerta.”
Belum selesai mereka berbicara, tanah di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar. Suara tawa kecil bergema di udara, diikuti oleh suara gemuruh seperti langkah-langkah raksasa.
Dari balik pepohonan, muncul makhluk aneh yang tinggi seperti menara, tubuhnya terbuat dari batu yang menyala merah, dengan retakan-retakan yang memancarkan lava. Matanya bersinar seperti bara, dan suaranya berat seperti gunung yang runtuh.
“Berikan cincin itu kepada kami, Anak Api, atau kami akan menghancurkan kalian di sini.”
Wisanggeni segera memanggil api ke tangannya. “Siapa kalian? Mengapa kalian menginginkan cincin ini?”
Makhluk itu tertawa keras, mengguncang pepohonan di sekitarnya. “Kami adalah penjaga yang dikirim oleh Batara Kala. Cincin itu adalah kunci kekuatannya, dan kau, Anak Api, hanyalah penghalang kecil di jalannya.”
“Penghalang kecil, katamu?” Ontoseno maju dengan Pancanaka terangkat. “Kalau begitu, mari kita lihat seberapa kecil kami menurutmu!”
Pertempuran meledak dengan hebat. Makhluk batu itu menghantam tanah dengan tinju raksasanya, menciptakan gelombang panas yang hampir membuat Wisanggeni terlempar. Ontoseno melompat ke udara, menyerang makhluk itu dengan Pancanaka-nya, tetapi serangannya hanya meninggalkan goresan kecil di tubuh batu itu.
“Benda ini terlalu keras!” Ontoseno berteriak sambil melompat mundur, menghindari serangan balik.
“Kita harus memecahkannya!” Wisanggeni menjawab, api di tangannya berubah menjadi tombak panjang. Ia melompat ke depan, menusukkan tombak itu ke retakan yang bersinar di dada makhluk itu.
Serangan itu membuat makhluk itu mengaum kesakitan, tetapi bukannya melemah, tubuhnya malah semakin panas, lava mulai mengalir dari retakan-retakan di kulitnya.
“Bagus sekali,” gumam Ontoseno sambil mendecakkan lidah. “Kau malah membuatnya lebih kuat.”
“Ini bukan salahku!” Wisanggeni membalas sambil menghindari lava yang meleleh ke tanah.
Pertempuran menjadi semakin sengit. Wisanggeni dan Ontoseno berjuang mati-matian, tetapi makhluk itu seolah tidak terkalahkan. Setiap kali mereka menyerang, tubuh batu itu hanya menjadi lebih kokoh.
Di tengah kekacauan itu, sebuah suara muncul di pikiran Wisanggeni, suara lembut yang sangat dikenalnya: suara Batara Guru.
“Gunakan cincin itu, Wisanggeni. Ini adalah ujian untukmu. Namun ingat, cincin itu tidak memberikan kekuatan. Ia hanya akan mengungkap kekuatan yang sudah ada di dalam dirimu.”
Wisanggeni menatap Cincin Amerta di tangannya. Ia ragu. Apa yang terjadi jika ia gagal? Apa yang terjadi jika kekuatan itu terlalu besar untuk dikendalikan?
Namun, ketika ia melihat Ontoseno yang hampir terjatuh karena serangan lava, keraguannya hilang. Ia memasukkan cincin itu ke jarinya.
Segera setelah cincin itu menyentuh kulitnya, Wisanggeni merasakan kekuatan yang luar biasa mengalir melalui tubuhnya. Api di sekitarnya berubah menjadi putih keemasan, dan udara di sekelilingnya menjadi begitu panas hingga tanah di bawah kakinya mulai meleleh.
Makhluk batu itu tampak ragu, tetapi ia tidak berhenti menyerang. Ia mengayunkan tinjunya ke arah Wisanggeni, tetapi Wisanggeni mengangkat tangannya, menciptakan dinding api besar yang menahan serangan itu.
“Sekarang giliranku,” kata Wisanggeni dengan suara yang bergema.
Ia melompat ke udara, membawa api putih ke tangannya, lalu melemparkannya langsung ke inti makhluk itu. Ledakan besar terjadi, menyelimuti hutan dalam cahaya yang menyilaukan. Ketika asap menghilang, makhluk batu itu sudah tidak ada.
Ontoseno berdiri dengan terengah-engah, menatap Wisanggeni dengan kagum. “Aku tahu kau punya kekuatan besar, tapi itu tadi... luar biasa.”
Wisanggeni tersenyum tipis, meski tubuhnya terasa lemah. “Cincin ini... bukan hanya benda biasa. Ia mengungkapkan sesuatu dalam diriku, sesuatu yang lebih besar dari yang aku bayangkan.”
Ontoseno menepuk bahunya. “Kau melakukannya dengan baik, sepupu. Tapi jangan biarkan cincin itu mengendalikanmu.”
“Tidak akan,” jawab Wisanggeni, matanya menatap jauh ke depan. “Tapi aku tahu sekarang... bahwa perjalanan ini tidak hanya tentang kekuatanku. Ini tentang menjaga keseimbangan dunia. Dan kita baru saja memulai.”
Namun, di balik kemenangan mereka, bayangan gelap masih mengintai, membawa ancaman yang lebih besar daripada sebelumnya. Perjalanan ke Gunung Merapi kini terasa semakin berbahaya.
Komentar
Posting Komentar