Langit di atas Lembah Kegelapan mulai memudar menjadi merah kehitaman ketika Wisanggeni dan Ontoseno mencapai bagian terdalam lembah itu. Di hadapan mereka berdiri sebuah kuil kuno yang menjulang di tengah reruntuhan batu-batu besar. Bangunan itu tampak seperti ditinggalkan selama ribuan tahun, namun ada aura yang mengalir di sekitarnya—dingin, tapi juga penuh daya tarik.
Cincin Amerta ada di dalam sana. Itu yang diyakini Wisanggeni. Namun, tubuhnya terasa berat, seolah sesuatu yang tak terlihat mencoba menghentikan langkahnya.
“Tempat ini benar-benar tidak ingin kita masuk,” kata Ontoseno, matanya menatap pintu besar yang terbuat dari batu hitam. Ia menggaruk dagunya dengan kuku Pancanaka. “Aku bisa merasakannya. Tanahnya seperti... menolak kita.”
“Semua tempat ini penuh dengan kutukan,” jawab Wisanggeni. “Tapi kita sudah terlalu jauh untuk mundur.”
Ontoseno mengangguk, meski ia tidak bisa menyembunyikan kegelisahan di wajahnya. “Baiklah. Tapi kalau tiba-tiba ada monster lain keluar, aku tidak akan membiarkanmu menikmati pertempuran itu sendirian.”
Mereka melangkah ke dalam kuil, melewati pintu batu yang terbuka perlahan setelah Wisanggeni menyentuhnya. Udara di dalam terasa lebih dingin, seperti es yang merayap ke tulang mereka. Dinding-dindingnya penuh ukiran cerita kuno tentang dewa-dewa dan makhluk-makhluk raksasa. Di tengah ruangan, ada sebuah altar besar, dan di atasnya tergeletak Cincin Amerta.
Namun, ketika mereka mendekat, suara bergema memenuhi ruangan. Itu bukan suara biasa; suara itu seperti datang dari segala arah sekaligus, berbisik namun jelas, seolah berbicara langsung ke pikiran mereka.
“Kau telah tiba, Wisanggeni... anak yang terbuang.”
Wisanggeni membeku. Ia menoleh, tetapi tidak ada siapa pun di sana. Ontoseno juga tampak bingung, tetapi ia segera mengangkat kukunya, bersiap menghadapi apa pun.
“Siapa itu?” tanya Wisanggeni, suaranya keras, mencoba melawan rasa takut yang perlahan merayap di hatinya.
“Aku adalah bagian dari dunia yang ingin kau pahami. Dunia para dewa. Dunia yang telah menolakmu.”
Api kecil muncul di tangan Wisanggeni. “Tunjukkan dirimu! Jangan sembunyi di balik suara!”
Tiba-tiba, dari bayangan di sudut ruangan, muncul sosok tinggi yang berkilauan, mengenakan jubah emas. Wajahnya tidak jelas, seperti tertutup oleh cahaya yang terlalu terang. Sosok itu melayang di udara, memandang Wisanggeni dengan tatapan dingin.
“Aku adalah Batara Guru,” kata sosok itu. “Penguasa Kahyangan. Kau mencari kebenaran, Wisanggeni. Tetapi kebenaran adalah kutukan.”
Ontoseno maju, mencoba melindungi Wisanggeni. “Jadi kau dewa yang membuang sepupuku ini? Mengapa sekarang kau muncul di sini?”
Batara Guru tidak menoleh kepada Ontoseno. Tatapannya hanya tertuju pada Wisanggeni. “Kau tidak pernah dimaksudkan untuk lahir, Anak Api. Keberadaanmu adalah kesalahan yang melawan tatanan dunia.”
Kata-kata itu menusuk hati Wisanggeni, tetapi ia tidak membiarkannya terlihat. Ia mengangkat dagunya, mencoba melawan perasaan rendah diri yang mulai menguasai dirinya. “Kalau aku tidak dimaksudkan untuk lahir, mengapa aku ada? Mengapa aku dibiarkan hidup? Jawab aku!”
“Karena kau memiliki peran,” kata Batara Guru, suaranya seperti gemuruh petir. “Peran yang akan menghancurkan dunia ini, atau menyelamatkannya. Tapi itu bukan pilihanmu.”
Wisanggeni menggertakkan giginya. Api di tangannya berkobar semakin besar. “Jadi, kau mengirimku ke sini hanya untuk mendengar ini? Kalau aku memang punya peran, aku sendiri yang akan menentukan takdirku!”
Batara Guru mendekat, jaraknya hanya beberapa langkah dari Wisanggeni. Suaranya kini lebih rendah, hampir seperti bisikan. “Cincin Amerta yang kau cari adalah kunci untuk memahami kekuatanmu. Tetapi itu juga kunci untuk membuka kekuatan yang lebih besar... sesuatu yang bahkan aku tidak bisa kendalikan.”
“Kalau begitu, kenapa aku tidak mengambilnya saja?” Wisanggeni menjawab dengan nada penuh tantangan.
“Karena jika kau gagal mengendalikan kekuatan itu,” Batara Guru berhenti, lalu melanjutkan dengan nada dingin, “kau tidak hanya akan menghancurkan dunia ini, tetapi juga dirimu sendiri.”
Ontoseno, yang sejak tadi mendengar percakapan itu dengan penuh kewaspadaan, akhirnya angkat bicara. “Kau bilang ini semua tentang pilihan, tapi aku tidak melihat ada yang memberi kami pilihan apa pun.”
Batara Guru menoleh padanya untuk pertama kalinya. “Kau adalah pelindungnya, Ontoseno. Kau adalah jangkar yang menjaga Wisanggeni dari kehancuran dirinya sendiri. Kau tidak dipilih untuk ini, tetapi kau telah memilih jalan ini dengan kesetiaanmu.”
Ontoseno mendengus. “Aku hanya di sini untuk memastikan kami keluar hidup-hidup. Kalau itu berarti aku harus menjadi jangkar untuk si anak api ini, maka biar begitu.”
Batara Guru tersenyum samar, lalu kembali menatap Wisanggeni. “Ambillah Cincin Amerta, jika itu yang kau inginkan. Tetapi ingat, setiap kekuatan besar membawa beban besar. Kau akan mengetahui kebenaran, tetapi kebenaran itu mungkin akan menghancurkanmu.”
Wisanggeni melangkah maju, meraih cincin itu. Saat tangannya menyentuhnya, kilatan cahaya menyelimuti ruangan. Dalam sekejap, ia merasa seperti ditarik ke dunia lain. Ia melihat bayangan-bayangan masa lalunya—bayi yang ditinggalkan di Gunung Candradimuka, Dewi Dresanala menangis dalam diam, dan para dewa yang berbisik-bisik tentang nasibnya.
Namun, ia juga melihat sesuatu yang lebih besar. Sebuah perang besar antara dunia manusia dan dunia dewa, dengan dirinya berdiri di tengah-tengah, kekuatannya membara seperti matahari.
Ketika kilatan itu memudar, Wisanggeni terjatuh ke lantai, terengah-engah. Ontoseno segera menghampirinya. “Apa yang kau lihat?”
Wisanggeni memandang cincin itu, lalu Ontoseno. “Aku melihat... kehancuran. Tapi aku juga melihat harapan.”
Di kejauhan, suara Batara Guru terdengar samar, seperti angin yang berhembus perlahan. “Sekarang kau tahu, Wisanggeni. Takdirmu adalah api. Tapi apa yang kau bakar... itu tergantung pada pilihanmu.”
Dan dengan itu, mereka melangkah keluar dari kuil, membawa Cincin Amerta dan beban takdir yang semakin berat di hati mereka. Namun, mereka tidak tahu, sesuatu yang gelap kini sedang mengintai mereka, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.
Komentar
Posting Komentar