Langit di atas hutan Banaspati berwarna kelabu, seperti kain kafan yang menyelimuti dunia. Pohon-pohon besar di tempat itu memiliki daun yang merah menyala, seolah menyimpan bara di dalamnya. Suara burung gagak bergema, memantulkan kegelapan yang merayap di setiap sudut.
Ontoseno berdiri di tengah jalan setapak, tubuhnya tegak seperti gunung yang menantang angin. Wajahnya keras, matanya tajam menatap ke depan. Tapi di balik tampilan kasarnya, ada kegelisahan yang merayap. Ia baru saja melewati desa terakhir di mana seorang tabib tua memintanya untuk berhati-hati melewati hutan Banaspati.
“Hati-hati, Anak Naga,” kata tabib itu. “Di sana, jejak leluhurmu akan mencarimu. Jangan biarkan darah yang mengalir dalam dirimu menjadi pengikat kutukan lama.”
Ontoseno hanya tertawa mendengar itu. "Kutukan? Kutukan adalah dongeng untuk anak kecil. Kalau ada yang mencoba mengikatku dengan masa lalu, biar aku yang memutus rantainya."
Namun, saat melangkah lebih dalam ke hutan itu, Ontoseno mulai merasakan sesuatu yang aneh. Udara menjadi berat, seperti mengandung ribuan rahasia yang tak terucapkan. Setiap langkah kakinya seolah menarik perhatian sesuatu yang tak terlihat, sesuatu yang besar dan purba.
Di tengah hutan, ia tiba di sebuah danau. Airnya hitam pekat, seperti cermin yang memantulkan kegelapan dunia. Di tengah danau itu, berdiri sebuah altar batu yang dihiasi dengan ukiran naga.
Dari bayangan air, muncul sosok yang menakutkan: seekor naga raksasa, kulitnya bersisik emas dengan mata merah menyala. Suaranya menggema seperti gempa bumi.
"Ontoseno, Anak dari Naga Bumi, kenapa kau berani menapaki tanah leluhur kami?"
Ontoseno berdiri tanpa gentar, tangannya sudah bersiap memanggil Kuku Pancanaka. "Aku tidak datang untuk leluhur siapa pun. Aku datang hanya untuk berjalan di jalanku sendiri. Kalau ada yang menghalangi, aku akan menghancurkannya."
Naga itu melingkar di atas altar, tubuhnya besar seperti gunung melata. Ia menatap Ontoseno dengan sorot penuh kebencian. "Kau adalah bagian dari kami, tetapi kau menolak menerima warisan darah naga. Kutukan telah mengalir dalam tubuhmu sejak lahir. Kau bukan milik manusia, dan kau bukan milik kami. Kau adalah anomali, dan itu adalah dosa yang harus ditebus."
Ontoseno menggeram, wajahnya memerah karena marah. "Dosa? Kalau darah kalian yang membuatku menjadi apa adanya, maka itu masalah kalian, bukan aku. Kalau kalian mau mengambilnya kembali, ayo coba!"
Naga itu mengaum, dan dari altar muncul bayangan naga-naga kecil yang hidup dari retakan tanah. Mereka mengepung Ontoseno, melilitkan tubuh mereka di sekelilingnya.
"Dasar ular kecil!" teriak Ontoseno sambil menghempaskan tubuhnya. Kuku Pancanaka keluar dengan kilau tajam. Dengan gerakan cepat, ia menghancurkan satu per satu naga bayangan itu. Setiap serangan mengoyak udara, seperti badai yang menumbangkan pohon.
Namun, naga raksasa itu tidak tinggal diam. Ia membuka mulutnya, mengeluarkan racun hitam yang mengalir ke tanah, membakar semua yang disentuhnya. Racun itu mengejar Ontoseno seperti sungai kematian.
Ontoseno melompat ke udara, tubuhnya berputar seperti naga yang tengah membelah angin. Ia mengeluarkan Ajian "Naga Sanga Jagat", memanggil kekuatan leluhur yang ia benci namun kini ia manfaatkan. Dari tanah, muncul sembilan pilar berbentuk kepala naga yang melingkar di sekelilingnya, melindunginya dari racun.
Pertarungan semakin sengit. Naga raksasa itu menyerang dengan kekuatan tanah, memanggil gempa kecil untuk menjatuhkan Ontoseno. Tapi Ontoseno, dengan darah Werkudoro yang mengalir di tubuhnya, menantang gempa itu dengan tubuh kekarnya.
Ia menghentakkan kakinya ke tanah, memanggil Ajian "Bumi Gumarang". Tanah di sekitarnya meledak, menciptakan gelombang energi yang menghantam naga raksasa itu hingga terhempas.
Naga itu meringis, tubuhnya terluka, tetapi sorot matanya tetap penuh dendam. "Kau melawan darahmu sendiri, Ontoseno. Ingat, kutukan ini tidak bisa kau hindari. Suatu hari, kau akan kembali kepada kami, atau kau akan mati karena menolak takdirmu."
Ontoseno mengarahkan Kuku Pancanaka-nya ke naga itu. "Takdir? Aku akan menulis takdirku sendiri. Kalau kalian ingin menahanku, maka bersiaplah untuk dihancurkan!"
Naga itu menghilang perlahan, tubuhnya lenyap menjadi bayangan di udara. Tetapi sebelum pergi, ia meninggalkan suara yang menggema: "Kutukan keturunan naga tidak bisa dipatahkan oleh keberanianmu saja, Ontoseno. Kau akan melihatnya nanti."
Saat Ontoseno meninggalkan hutan Banaspati, ia merasakan bayangan kutukan itu masih menggantung di atasnya. Namun, ia tidak peduli. Di kepalanya, hanya ada satu tujuan: menemukan jawaban atas perannya di jagad raya, meski harus melawan takdir dan kutukan yang diwariskan darahnya.
Dengan senyum sinis di bibirnya, Ontoseno berjalan kembali ke jalannya, seperti naga pemberontak yang melawan langit dan bumi.
Komentar
Posting Komentar