Langit pagi di kaki Gunung Slamet tampak berlapis kabut, seakan menyembunyikan sesuatu yang besar di balik kegelapan hutan lebatnya. Wisanggeni berjalan menyusuri lembah berbatu, langkahnya terasa ringan meski ia masih dilingkupi rasa waspada. Setelah mengalahkan Kala Seta, ia merasa kekuatan di dalam dirinya lebih terkendali, tetapi ia sadar bahwa perjalanan ini masih panjang. Api dalam dirinya hanya sebuah awal, dan dunia di luar sana menyimpan rahasia-rahasia yang masih harus ia pecahkan.
Namun, pagi itu berbeda. Langkah Wisanggeni terhenti ketika tanah di bawah kakinya bergetar pelan, seperti ada sesuatu yang bergerak di bawah permukaan. Ia mundur, bersiap menghadapi apa pun yang akan muncul. Tiba-tiba, tanah di depannya ambles, menciptakan lubang besar. Dari kedalaman itu muncul sesosok pria bertubuh kekar, mengenakan kain perang berwarna hijau tua. Kulitnya legam, dengan kuku panjang berkilau seperti logam yang memancarkan energi tajam.
“Siapa kau?” tanya Wisanggeni, tangannya bersiap memanggil api.
Pria itu tersenyum tipis, menunjukkan gigi-gigi putih yang kontras dengan kulitnya. “Kau bertanya siapa aku, tapi kaulah yang menyusuri wilayahku tanpa izin. Namaku Ontoseno, putra Werkudara. Dan kau harus menjelaskan alasanmu berada di sini sebelum aku menganggapmu musuh.”
Wisanggeni tertegun mendengar nama itu. Ontoseno—putra Werkudara, pamannya sendiri. Namun, ia tidak langsung menjelaskan. Ada kehati-hatian dalam tatapan Ontoseno, seperti naga yang siap menyerang kapan saja.
“Aku Wisanggeni,” jawabnya akhirnya. “Aku juga putra Pandawa, meskipun... sepertinya tak ada yang mengingatku.”
Ontoseno mengangkat alis, tetapi senyumnya melebar. “Jadi kau ini sepupuku? Anak Arjuna, katanya?” Ia melipat tangan di dada, mengamati Wisanggeni dari ujung kepala hingga kaki. “Sepertinya kau lebih mirip makhluk api daripada manusia biasa.”
Wisanggeni tidak tersinggung. Ia hanya menatap Ontoseno dengan serius. “Aku di sini bukan untuk mencari pengakuan. Aku sedang menjalankan takdirku, apapun itu. Apa kau akan menghalangi jalanku?”
Alih-alih menjawab, Ontoseno tertawa keras, suaranya menggema di sekitar lembah. “Kau seperti ayahmu—serius dan penuh rahasia. Tapi aku suka keberanianmu.” Ia melangkah maju, kuku Pancanaka di tangannya berkilau tajam. “Namun, jika kau benar-benar putra Pandawa, buktikan dirimu! Kita selesaikan ini dengan adu kekuatan.”
Wisanggeni tahu bahwa Ontoseno serius. Ia tidak punya pilihan selain menerima tantangan ini. Mereka berdua berdiri berhadapan di tengah lembah berbatu, matahari pagi bersinar lemah di balik kabut.
Ontoseno adalah yang pertama bergerak. Dengan kecepatan luar biasa, ia melompat ke udara dan menghantam tanah dengan keras, menciptakan gelombang kejut yang membuat bebatuan berhamburan. Wisanggeni mundur, mencoba menjaga keseimbangan, tetapi Ontoseno sudah ada di depannya, kuku Pancanaka siap menyabet tubuhnya.
Wisanggeni mengangkat tangan, api menyala di sekelilingnya. Serangan Ontoseno terpental oleh nyala api yang melindunginya, tetapi pria bertubuh kekar itu hanya tersenyum. “Kau memang menarik, Anak Api.”
Serangan demi serangan dilancarkan Ontoseno, tetapi Wisanggeni tidak tinggal diam. Ia melawan dengan api yang semakin terkendali, menciptakan benturan antara kekuatan bumi dan kekuatan api. Lembah itu seakan menjadi medan perang, dengan batu-batu yang terpecah dan tanah yang menghitam karena kobaran api.
Di tengah pertarungan itu, Ontoseno tiba-tiba berhenti. Ia tertawa keras, mengangkat tangannya sebagai tanda penghentian. “Cukup! Aku hanya ingin menguji keberanianmu, Wisanggeni. Dan aku terkesan.”
Wisanggeni, yang napasnya terengah-engah, menatapnya bingung. “Apa maksudmu?”
Ontoseno mendekat, menepuk bahu Wisanggeni dengan ringan. “Aku tidak berniat melawanmu. Kau adalah sepupuku, dan aku melihat sesuatu dalam dirimu—api yang tidak hanya membakar, tetapi juga menyala untuk melindungi. Jika kau memang punya misi, aku akan ikut denganmu. Dunia ini terlalu kacau untuk dihadapi sendirian.”
Perjalanan mereka berlanjut bersama. Ontoseno, dengan caranya yang penuh canda dan kekuatan luar biasa, menjadi rekan yang tak tergantikan bagi Wisanggeni. Namun, hubungan mereka tidak selalu mulus.
Suatu malam, ketika mereka beristirahat di pinggir sungai, Ontoseno berbicara dengan nada serius yang jarang ia tunjukkan. “Kau tahu, Wisanggeni, aku selalu merasa seperti bayangan ayahku. Werkudara adalah kesatria besar, dan semua orang berharap aku menjadi seperti dia. Tapi aku bukan dia. Aku... aku hanya Ontoseno.”
Wisanggeni menatapnya, merasakan kesedihan yang familiar. “Aku juga tahu rasanya menjadi bayangan seseorang. Bahkan sebelum aku lahir, dunia sudah memutuskan bahwa aku tidak layak. Tapi aku belajar sesuatu, Ontoseno. Takdir kita bukan ditentukan oleh apa yang orang lain pikirkan. Kita yang harus menemukannya sendiri.”
Ontoseno tersenyum tipis. “Kau memang berbeda, Wisanggeni. Mungkin itu sebabnya aku merasa kita cocok. Kau api, aku bumi. Dua hal yang saling melengkapi.”
Dan malam itu, mereka membuat janji. Mereka akan berjalan bersama, tidak hanya sebagai saudara sepupu, tetapi sebagai rekan sejati dalam perjalanan yang penuh bahaya.
Namun, di balik canda dan ikatan baru mereka, ancaman terus mendekat. Di kejauhan, sesosok makhluk gelap mengintai mereka dari balik pepohonan. Makhluk itu, dengan mata merah menyala dan tubuh penuh sisik, membawa pesan dari Batara Kala. Dunia tidak akan mudah bagi dua kesatria muda ini, dan ujian yang sebenarnya baru saja dimulai.
Komentar
Posting Komentar