Tanah di bawah kaki Ontoseno bergetar ringan setiap kali langkahnya menghentak. Ia berjalan tanpa arah, menyusuri jalan setapak yang dikelilingi hutan belantara. Pohon-pohon raksasa menjulang seperti para penjaga kuno, menyembunyikan langit di atasnya. Angin berhembus membawa bau tanah basah dan dedaunan yang gugur. Ontoseno menarik napas dalam-dalam.
"Hutan ini seperti mulut raksasa," gumamnya, suaranya kasar, tetapi dengan nada cemoohan yang jenaka. "Tapi kalau memang mau memakanku, kenapa tidak sekalian saja?"
Ia meludah ke tanah, lalu melanjutkan langkahnya. Di belakang punggungnya, syal kotak hitam putih warisan ibunya berkibar, seperti bendera perang yang tak pernah diturunkan.
Setelah berjam-jam berjalan, Ontoseno tiba di sebuah desa kecil yang tampak seperti telah melewati akhir dunia. Rumah-rumah reyot dengan atap yang bolong berserakan. Orang-orang berwajah pucat berlalu-lalang dengan langkah gontai, seperti bayangan yang tersisa dari tubuh mereka. Bau asap dan abu memenuhi udara.
"Hei, kalian semua ini kenapa?" teriak Ontoseno kepada seorang lelaki tua yang duduk termenung di tepi jalan.
Orang tua itu mengangkat wajahnya, sorot matanya dipenuhi ketakutan. "Raksasa Tanah... mereka datang setiap bulan, menghancurkan sawah kami, mencuri hasil panen..."
Ontoseno mendengus, mendekatkan wajahnya yang garang ke lelaki tua itu. "Dan kalian semua hanya diam? Menyerah begitu saja?"
"Anak muda, kau tak mengerti," jawab lelaki tua itu dengan suara bergetar. "Raksasa itu tidak bisa dilawan. Mereka seperti gunung yang hidup."
Ontoseno tertawa keras, suaranya bergema seperti derai petir. "Gunung yang hidup? Maka aku adalah badai yang akan menghancurkan gunung itu. Tunjukkan padaku di mana mereka!"
Lelaki tua itu hanya menatapnya dengan ketakutan bercampur heran, tetapi seorang pemuda yang mendengar pembicaraan mereka mendekat. Pemuda itu memperkenalkan dirinya sebagai Jaka Kembar, salah satu penduduk yang masih berani bertarung meski dengan alat seadanya. "Kalau kau memang seberani yang kau katakan, ikuti aku," katanya dengan nada tantangan.
Malam itu, Ontoseno dan Jaka Kembar bersembunyi di balik gundukan tanah, menanti kedatangan para raksasa. Bulan merah menggantung rendah di langit, memberikan suasana yang lebih menyeramkan. Dari kejauhan, terdengar suara gemuruh seperti longsor.
"Mereka datang," bisik Jaka Kembar.
Dan datanglah mereka, para Raksasa Tanah. Tubuh mereka besar seperti bukit, kulit mereka hitam kecokelatan, penuh retakan seperti tanah kering. Mata mereka bersinar hijau, memantulkan keganasan. Mereka melangkah perlahan, setiap langkah mereka membuat tanah di sekitar berguncang.
"Raksasa? Ini?" Ontoseno tertawa kecil sambil berdiri. "Kukira mereka sebesar gunung. Ternyata cuma gundukan lumpur yang bisa berjalan."
Jaka Kembar menahan Ontoseno. "Jangan gegabah! Mereka bisa menghancurkanmu dalam satu pukulan!"
Namun, Ontoseno mengabaikannya. Ia melangkah maju dengan santai, seperti sedang berjalan-jalan di pasar. Ia berdiri tepat di depan para raksasa dan berteriak, "Hei, kalian semua ini apa? Gundukan tanah atau hewan peliharaan? Pulanglah sebelum aku berubah pikiran dan mengubur kalian selamanya!"
Para raksasa berhenti, lalu salah satu dari mereka mengaum. Suara itu mengguncang udara, membuat burung-burung di hutan terbang ketakutan. Tetapi Ontoseno hanya tersenyum miring, tangannya mengepal, dan kuku Pancanaka-nya muncul secara otomatis. Kuku itu bersinar seperti pedang emas di bawah cahaya bulan.
"Kalau kalian mau bertarung, ayo!" serunya.
Pertempuran pun pecah. Raksasa pertama menyerang dengan tangan sebesar balok pohon, tetapi Ontoseno melompat ke udara dengan kecepatan luar biasa. Ia mendarat di atas kepala raksasa itu, menancapkan kuku Pancanaka-nya ke dalam tengkorak tanah liat raksasa itu. Dengan sekali sentakan, raksasa itu roboh, tubuhnya hancur menjadi debu.
Raksasa lainnya menyerang bersamaan, tetapi Ontoseno melawan dengan gerakan yang mengalir seperti air. Ia menghindari setiap pukulan dengan kelincahan luar biasa, lalu menghancurkan mereka satu per satu. Dalam waktu singkat, hanya tersisa debu dan tanah yang berserakan di sekitar.
Jaka Kembar, yang menyaksikan dari kejauhan, melangkah maju dengan wajah tak percaya. "Kau benar-benar bukan manusia biasa..."
Ontoseno menatapnya dengan senyum sinis. "Aku tidak butuh kau mengingatkanku. Sekarang, ajari orang-orang desamu untuk melawan. Jika mereka hanya diam seperti tadi, lain kali mungkin aku tidak akan ada untuk membantu."
Keesokan paginya, Ontoseno bersiap untuk pergi. Jaka Kembar dan penduduk desa mengantarnya dengan penuh rasa terima kasih.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Jaka Kembar, masih bingung dengan sikap kasar namun setia Ontoseno.
"Aku tidak suka raksasa," jawab Ontoseno dengan nada bercanda, lalu menambahkan dengan nada serius, "Dan aku tidak suka melihat orang menyerah pada takdir. Kalau kau ingin hidup, bertarunglah untuknya."
Dengan kata-kata itu, Ontoseno melangkah pergi, meninggalkan debu dan kenangan di belakangnya, serta harapan baru bagi desa yang pernah hancur. Di depannya, perjalanan panjang masih terbentang, penuh dengan misteri yang menunggu untuk ditaklukkan.
Komentar
Posting Komentar