Malam itu, langit di Kerajaan Baruna pecah seperti kaca dihantam palu raksasa. Kilat-kilat menyambar ganas, seperti naga-naga langit yang menari liar di atas samudera. Di dalam sebuah gua yang terpencil, Dewi Urangayu, sang putri laut yang cantik jelita, menggeliat menahan rasa sakit luar biasa. Werkudoro, suaminya yang perkasa, berdiri tegak di sampingnya. Wajahnya yang penuh guratan keberanian berubah tegang. Untuk pertama kalinya, Werkudoro merasakan ketakutan—bukan karena musuh, tetapi karena rasa tak berdaya melihat wanita yang dicintainya melahirkan dengan taruhan nyawa.
"Dia akan menjadi legenda," bisik Urangayu dengan suara yang terengah. Tangannya yang lemah menggenggam syal bermotif kotak hitam putih—warisan leluhur yang dia persiapkan untuk putranya. "Ontoseno... namanya Ontoseno."
Saat tangisan bayi pertama menggema, suara itu tidak seperti bayi biasa. Jeritannya menggema bagai gelegar gempa yang mengguncang bumi. Di dahi bayi itu, dua tanduk kecil muncul, mengkilat seperti berlian yang tertanam dalam. Pipinya dihiasi sisik emas yang berkilauan di bawah cahaya obor. Werkudoro, meskipun dikenal sebagai ksatria yang tak pernah gentar, tertegun melihat anaknya. Anak itu bukan hanya manusia; ia adalah campuran yang mustahil dari dunia naga dan dunia manusia.
Namun, keajaiban itu tidak dirayakan lama. Betara Baruna, penguasa laut sekaligus ayah Dewi Urangayu, muncul dari kedalaman gua. Wajahnya keras, suaranya seperti ombak yang menghantam karang. "Urangayu! Apa ini? Kau melahirkan penghinaan bagi kaum naga!"
Urangayu, meskipun lemah, berdiri dengan sisa-sisa kekuatannya. "Ontoseno bukan penghinaan! Dia adalah anugerah! Sebuah jembatan antara dunia kita dan dunia manusia."
"Tidak ada jembatan!" bentak Baruna. "Anak ini akan membawa kehancuran bagi kita semua!"
Werkudoro maju, tubuh kekarnya seperti gunung yang bergerak. "Ontoseno adalah anakku. Jika ada yang menyentuhnya, mereka harus melewati Pancanaka-ku terlebih dahulu."
Namun, pertempuran malam itu tak terjadi karena Urangayu menangis tersedu-sedu, memohon agar Werkudoro tidak memperpanjang pertumpahan darah. Dengan berat hati, Baruna meninggalkan gua, tetapi tidak sebelum melontarkan kutukan. "Ontoseno akan hidup terasing. Dia tidak akan diterima di dunia naga, dan dunia manusia pun akan membencinya."
Tahun-tahun berlalu. Ontoseno tumbuh besar, jauh lebih cepat dari anak-anak lainnya. Tubuhnya menjulang tinggi, otot-ototnya seperti ukiran batu cadas, dan matanya menyala seperti bara api. Tetapi dia tidak seperti anak-anak lain yang lembut kepada ibunya.
"Ontoseno, makan dulu, Nak," pinta Dewi Urangayu suatu pagi.
"Aku makan kalau aku mau!" Ontoseno menjawab dengan suara kasar, tapi tangannya tetap mengambil nasi yang disiapkan ibunya. Saat melihat ibunya diam, ia mengeluh, "Apa? Kenapa kau menatapku begitu?"
Urangayu hanya tersenyum tipis. Dia tahu, di balik kekasaran itu, Ontoseno menyimpan cinta yang besar untuknya. Bahkan jika ia berujar kasar, Ontoseno tak pernah meninggalkan ibunya sendirian. Hatinya penuh komitmen, meski lidahnya sering menusuk.
Di sisi lain, Ontoseno sering membuat masalah di desa sekitar. Suatu kali, sekelompok anak muda mencemoohnya karena tanduknya. “Hey, anak naga! Kenapa tidak kau terbang saja ke sarangmu?” ejek salah satu dari mereka.
Ontoseno tertawa kecil, lalu mendekat, mengintimidasi mereka dengan tubuh besarnya. “Apa kau mau kuajari bagaimana tanduk ini bisa menusukmu seperti tombak?” ucapnya dengan nada jenaka tapi berbahaya. Anak-anak itu lari terbirit-birit, membuat Ontoseno tertawa terbahak-bahak. “Dasar manusia lemah!” ejeknya sambil berjalan pergi.
Namun, malam itu, ketika ia kembali ke rumah, Urangayu berbicara lembut. “Ontoseno, jika kau terus begini, kau hanya akan membuktikan bahwa kau tidak pantas diterima di mana pun.”
Kata-kata ibunya itu menusuk lebih dalam dari pedang. Ontoseno terdiam lama, lalu menatap ibunya dengan wajah yang sulit ditebak. “Mungkin kau benar, Bu. Tapi apa peduliku? Dunia tidak peduli padaku, jadi aku tidak peduli pada dunia.”
Di usia tujuh belas, Ontoseno memutuskan pergi dari rumah. Ia mencium tangan ibunya untuk pertama kalinya. "Aku pergi bukan karena aku ingin meninggalkanmu, Bu. Aku pergi karena aku harus mencari tahu, siapa aku sebenarnya."
Urangayu menangis, tetapi dia tidak menahan Ontoseno. “Kemanapun kau pergi, Ontoseno, ingatlah satu hal. Kau adalah anakku. Kau lahir dengan alasan. Temukan itu.”
Ontoseno berjalan meninggalkan gua. Di belakangnya, ombak bergulung, membawa pesan ibu yang tak terdengar. Di depannya, tanah yang luas menanti untuk dijelajahi. Di dadanya, amarah dan kesetiaan berperang seperti badai. Ontoseno telah memulai perjalanan yang akan mengubah jagad raya.
Komentar
Posting Komentar